Menanti Kabar Mentari


(Chapter 1) Menanti Kabar Mentari
~Seleksi~
Aku terbangun ketika alarm handphoneku meraung-raung seperti mesin penggiling padi tua. Dengan gerak malas aku meraihnya di meja, samping tempat tidurku. “Wuah! Aku masih ngantuk”, kataku lirih sembari berjalan gontai menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu, dan kemudian shalat tahajjud. Hari ini adalah hari pengumuman seleksi tahap satu beasiswa SMA luar kota yang beberapa hari lalu aku ikuti. Pengumuman akan disampaikan melalui SMS ke nomor HP guru siswa. aku cukup yakin akan lolos di tahap awal ini, karena administrasi tak ada yang terlewati dan masih ketambahan piagam penghargaan seadanya.
***
Beberapa hari lalu duniaku tampak sibuk, sesibuk barisan semut yang mencari makan, atau mungkin bahkan sesibuk para pejabat negeri ini yang kesana kemari mengatasi berbagai permasalahan rakyat, persoalan politik, hingga problematika individual mereka.
"Sudahkah siap semuanya?",tiba-tiba suara ibu mengagetkanku yang tengah konsentrasi penuh meneliti berkas pendaftaran.
"E...eh ,Sepertinya sudah semua,Bu,InsyaAllah",balasku sedikit tak terkendali. "Yasudah,tidurlah,semoga kau lolos",tangan halus ibuku terasa bergerak-gerak mengusap rambutku yang tergerai panjang. Jam menunjukkan pukul 10:00 malam.
"Baik,Bu,amin",ku kecup kening wanita yang sangat kusayangi itu.
***
Kusingkap tirai jendela kamarku,dan kemudian seberkas cahaya mentari menyapa pagiku dengan ramahnya. Aku tersenyum.
Lancarkanlah,Ya Allah",sedikit do'a di pagi hari membuatku tenang.Aku mandi,berganti seragam OSIS SMP tercinta,kuambil sepeda onthel yang dibelikan ayahku satu tahun lalu,dan aku siap menyambut hari ini.
"Hai Azza!",terdengar teriakan dari kejauhan di belakang memanggil namaku,dan benar,dia Lisa,teman karibku yang juga mengikuti seleksi ini.
"Eh iyaaa,Halo,Lisa!",kulambaikan tangan padanya,dia berlari menujuku yang saat itu baru saja akan memasuki pintu kelas. Gadis berjilbab itu tampak begitu mempesona,postur tubuhnya bak model. "Bagaimana,siap?",tanyanya tiba-tiba sambil mengedipkan sebelah mataya,dia tampak semakin cantik."Siap,InsyaAllah. Ayo ke kelas! setelah ini kita harus segera memeberikan berkas ke guru BK,kan?",balasku seketika ,dan kemudian kami berjalan beriringan.Seolah ada lem yang merekatkan , akur,seakur saudara sedarah.
***
Pengumuman akan disampaikan pagi ini melalui SMS ke nomor HP guru siswa,aku cukup yakin akan lolos di tahap awal ini,karena administrasi tak ada yang terlewati,dan masih ketambahan piagam penghargaan seadanya.Ada dua pilihan ,jika pagi ini guruku mendapat SMS masuk,itu tandanya aku lolos,dan sebaliknya.
Pak Zaen,begitu panggilan akrabnya,nama aslinya adalah Ahmad Zaenuri,seorang guru BK sekaligus guru paling tua di SMP ku.Sikapnya yang supel,loyal,dan humor menjadi sebab utama sebagian besar siswa menyukainya,walaupun kadang juga galak,saat memberi hukuman pada siswa yang melanggar aturan sekolah.
Awal mulanya,rumah beliau berada di kampung sebelah,tapi karena sepertinya ada masalah keluarga yang cukup berat,beliau sekeluarga pindah,mengontrak rumah,dan alangkah kebetulannya,rumah yang dikontrak berada di samping rumahku.
Entah mengapa sampai aku di sekolah,tak terdengar kabar diterima,hatiku terasa tak tenang sama sekali,dan padahal pukul 08:00 pagi nanti para siswa yang dierima harus mengikuti seleksi tahap kedua.Kulihat sekilas jam tangan pink yang melingkar di tanganku,jam menunjukkan pukul 07:30 WIB.Saat itu aku sedang mengikuti jam matematika ketika tiba-tiba Pak Zaen mengetuk pintu kelas,memanggil aku dan Lisa,hanya kami berdua,karena memang kami berdualah yang minat mengikuti seleksi.
"Bagaimana ,Pak?" tanya Lisa.
"Entahlah,sampai sekarang belum ada pemberitahuan dari pihak SMA itu,dan lebih baik kita berangkat ke tempat seleksi",balas Pak Zaen. Kami bertiga mempercepat jalan kami,dan berangkat.Aku tak berkata apa-apa sejak dari tadi pagi hingga kami bertiga sampai di tempat seleksi pukul 09:00 WIB.Jarak sekolahku dan tempat seleksi kira-kira 21 km,cukup terasa jauh untuk situasi yang seperti ini.
Suasana sepi,mencekam,dan perlahan keringat dingin menetes halus dari pelipisku.Kami berjalan sangat cepat,dan kulihat dari kejauhan tampak beberapa guru berseragam Batik Tulis.Selang 3 menit,kami sampai di depan sebuah ruangan,yang di dalamnya tengah dilaksanakannya seleksi tertulis.Perhatianku tertuju pada seseorang,yang memang lama ku kenal,namun sekedar kenal namanya,dan aku tak tahu entah dia mengenalku atau tidak.Dia duduk di kursi terdepan,dan terlihat serius mengerjakan soal tes.Ada sedikit rasa tak suka yang muncul dalam diriku.Aku merasa ada pihak yang sengaja pilih kasih,karena setahuku dia memang siswa dari sekolah favorit di kota kami.
"Dari SMP mana ,Dek?",tanya seorang guru perempuan berbedak tebal yang seketika membuyarkan lamunanku.
"SMP Bhakti Bangsa,Bu",balasku tanpa ekspresi sedikitpun.
"Loh,mengapa tidak langsung masuk saja,seleksi tertulis sudah dimulai dari tadi",katanya dengan sedikit raut khawatir di wajah putihnya.
"Eh maaf bu,kamikemari untuk meminta klarifikasi penerimaan seleksi adminitrasi,saya cukup yakin murid-murid saya bisa lolos seleksi yang cukup mudah ini,tapi mengapa belum ada SMS masuk tadi pagi",suara berat itu terdengar memotong pembicaraanku dan ibu tadi.Rupanya Pak Zaen dari tadi menguping,atau memang tak sengaja mendengar.
"Itu berarti memang tidak lolos pak,soalnya tadi pagi-pagi benar di HP saya sudah ada SMS masuk",balas ibu itu sambil menunjukkan SMS dari pihak SMA yang ada di layar HP mewah bermerk Samsung S6 nya.
"Oh,begitu?"
"iya pak"
"Yasudah terimakasih,Bu"
"Iya sama-sama"
Kulihat Pak Zaen berjalan meninggalkanku yang tengah bingung,apalagi Lisa yang sedari tadi terpaku di sampingku,Pak Zaen tampak tak peduli dengan guru-guru yang berbisik,yang tersenyum mengejek,dan yang sama sekali tak peduli keadaannya.Sejurus kemudiam,kulihat beliau berbincang pelan dengan seorang pengawas tes,lalu selesai,dan mengajak kami pulang.
"Bersabarlah,semoga ada hikmah di balik ini",kata Pak Zaen sedikit lesu.
Aku dan Lisa menjawab hampir bersamaan,"Baik,Pak".
20 km lagi kami akan sampai di sekolah,mobil sedan hitam milik Pak Zaen melaju dengan cepatnya.Tak terasa air mata ku menetes,dan segera kuusap "Mengapa ini terjadi pada kami,kami yang memiliki cita-cita tinggi,kami yang berjuang dan belajar sangat keras",batinku dalam hati.Karena mobil ini melaju cepat,tidak sampai satu jam kami sampai.Ya,kami sampai di sekolah ketika HP Pak Zaen berdering menunjukkan ada panggilan masuk.
"Halo?"
"Iya,bagaimana,Bu?",rupanya beliau tadi sempat meminta nomor HP pengawas tes.
"Oh begitu,terimakasih",Pak Zaen menyungging senyum dan putar balik.
"Ada apa ,Pak",sahut Lisa sedikit bingung.
"Kalian diterima!",Pak Zaen tertawa bangga.
"Kok bisa ya,Pak?",aku menyahut.
"Tentu bisa,ternyata berkas pendaftaran kalian belum terkoreksi,dan baru saja pengawas tadi mengoreksinya,dan kalian positif lolos seleksi tahap satu ini"
Aku dan Lisa tersenyum bangga.
***
Tak masalah kami menaklukkan jalan raya 63 km,asal pada akhirnya kita bisa mengikuti seleksi tahap dua,dimana terdiri dari seleksi tertulis,interview dengan bahasa inggris,dan diskusi kelompok.
Sepanjang perjalanan putar balik kami,entah mengapa di pikiranku hanya ada dia,leleaki yang tadi terlihat serius mengerjakan soal tes.Dibalik rasa tak sukaku pada gayanya,dan prasangka burukku terhadapnya,aku merasakan ada sedikit desiran halus,juga sebercak kagum yang sepertinya membuatku selalu memikirkannya.
"Astagfirullah",batinku tersadar.
Keringat dingin menetes
Jantung berdetak kencang ,dan semakin kencang
Kakiku melangkah gemetar
Aku,Lisa,dan Pak Zaen telah sampai lagi di tempat tadi.Sepertinya tes tertulis telah selesai di laksanakan,para guru serta para siswa (pintar) tengah berada di luar ruanagn,ada yang duduk santai,berbincang,membaca buku,dan aku melihat dia,dia yang tadi kupikirkan,sedang asik mengobrol dengan teman-temannya.
Hingga sore kami bertiga baru bisa pulang,karena memang aku dan Lisa harus menyusul tes tertulis."Syukur Alhamdulillah",batinku senang .Lisa berjalan di sampingku,begitu pula dengan Pak Zaen,aku merasa bangga atas totalitas dukungan dari guru favoritku ini."Biarlah waktu ang menjawab,kita tunggu hasilnya saja ya,Za.Ini seleksi akhir",Lisa mencairkan suasana."Hmm,iya.Kita tunggu Maret mendatang,4 bulan lagi,Lisa",kataku.Lisa mengangguk,Pak Zein hanya menoleh dan tersenyum untuk kami berdua.
***
Chapter 2) Menanti Kabar Mentari 
 ~Gadis Brilian dari Gunung~
Lisa Melda Riyanti,begitulah nama panjang pemberian alamarhumah neneknya sejak ia lahir,15 tahun yang lalu.Postur tubunya yang bisa dibilang keturunan model kelas atas,kulitnya yang manis sawo matang,dan jari-jarinya yang lentik,serta bibirnya yang begitu mudah tersenyum,itulah kesan pertama yang pasti akan dirasakan ataupun dilihat setiap orang yang berjumpa dengannya.Belum lagi, Lisa memiliki otak cerdas,yang menambah pesona dirinya.
Dia tinggal di sebuah desa,di dekat gunung, yang cukup jauh dari desaku.Pernah suatu ketika,aku datang ke rumahnya untuk mengambil buku catatan matematika milikku ,karena jadwal Ulangan Kenaikan Kelas esok harinya adalah matematika dan Pendidikan Kewarganegaraan.Begitulah Lisa,dibalik pesonanya,dia memang sering sedikit ceroboh,tapi aku tetap menghargainya,sebagai sahabat yang selama di Sekolah Menengah Pertama ini selalu satu kelas denganku.
Anak semata wayang.Ituah julukan untuknya.Karena memang Lisa tak bersaudara kandung.Bapak Ibu Lisa masih terlihat muda dan segar,sama seperti kedua orang tuaku.Keluarga merekapun tampak harmonis,dan selalu ramah dengan setiap orang.Hingga suatu pagi saat di sekolah,sebelum bel masuk otomatis berbunyi.Lisa berjalan melewati bangku ku, yang saat itu aku sedang asik membaca novel Tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata,penulis idolaku.Mata gadis cantik itu sembab,mulutnya pucat,tak se pink biasanya.Begitupun dengan cara berjalannya,gontai tak beraturan.Krena sesekali dia menabrak kursi kosong ,yang mungkin temanku yang duduk disitu belum datang.
"Lisa,apakah kau baik-baik saja?",sahutku padanya.Kumasukkan novel Edensor (novel ketiga Laskar Pelangi) ke dalam tas biru lautku,lalu menuju ke bangku Lisa yang jauh di belakang.
"Hiks... hiks...",Lisa sesenggukan ketika aku telah duduk di sampingnya."Kau kenapa,Lis?",aku mengusap punggungnya.
"Aku berharap kau bisa jaga ceritaku ini,bisa kan ,Azza?",Lisa mengusap air matanya,dan perlahan menoleh ke arahku,setelah dari tadi dia menunduk,seolah melampiaskan kesedihannya dengan lantai kelas kami.
"Ceritalah,akan kusimpan baik-baik,aku adalah sahabatmu selama ini,jadi..."
"Orang tuaku tak bersama lagi",potong Lisa.
Aku tersentak kaget,mataku melotot bagaikan ikan di laut yang kehilangan induknya.Tulang tubuhku terasa runtuh satu per satu.Bibirku terkunci rapat-rapat.Otakku tak terkendali.Aku tak percaya ini."Benarkah,Lisa?",tanpa kusadari air mataku menetes.Lisa mengangguk pelan,tangisnya semakin tak terkendali.Hingga teman-teman berhamburan masuk ke dalam kelas,karena bel masuk telah terdengar.Aku yang saat itu masih mematung di samping Lisa,tiba-tiba Dina mengagetkanku karena aku menempati tempat duduknya.Lisa mengusap air matanya,untuk berusaha menutupi masalah yang dialaminya.Tubuh ini berjalan lemas menuju bangku depan.Aku tak bisa fokus belajar hari itu.Dan aku tak bisa menggambarkan bagaimana perasaan Lisa,anak semata wayang cerdas yang mengalami broken home.
***
Semua berawal ketika suatu malam ayah Lisa pulang kerja...
"Lisa sudah tidur,Bu?",Tanya Pak Herman sembari menyalakan televisi,dan meminum kopi yang tampaknya telah dipersiapkan istri tercintanya,Bu Herman,Ibu Lisa.
"Sudah Pak,tumben tanyanya kok begitu?"
"Kemarilah!",perintah Pak Herman pada Bu Herman yang saat itu tengah sibuk menjahit baju pesanan tetangga.
"Baiklah"Bu Herman ternyesum ramah,ia terlihat semakin cantik saja.
"Aku ingin pergi,pergi jauh,kita sudahi semuanya,aku tak tahan lagi hidup denganmu,hanya tak tahan denganmu,lain lagi dengan Lisa",jelas Pak Herman dengan wajah dingin,dan sama sekali tak merasa bersalah.
Bu Herman tak berkata sepatah kata pun,setelah mendengar penjelasan singkat Pak Herman,ia langsung masuk ke dalam kamarnya,dan "BRAAAKKK!",terdengar suara pintu yang di banting penuh amarah.Pak Herman sedikit kaget memang,tapi setelahnya,dia hanya mengangkat alis masa bodoh.Dan Televisi dimatikannya,lalu tidur di karpet ruang tengah.
***
Kejadian itu terjadi beberapa bulan sebelum aku dan Lisa mengikuti seleksi beasiswa SMA luar kota itu.Lisa sempat Shock berat beberapa minggu,hinga sering juga tak masuk sekolah,ada kabar pula dirinya sakit,hingga prestasinya turun.Biasanya,di pelajaran fisika,Lisa mendapat nilai tertinggi saat ulangan.Dan aku selalu pas di bawahnya,tapi setelah peristiwa tak pantas itu datang ke kehidupannya,nilainya acak adul.Bahkan ketika ulangan Fisika,nilainya berada di bawahku.
Banyak orang bilang,Lisa adalah gadis yang tak mudah menangis,periang,aktif,dan mudah menyembunyikan masalah.Sehingga,di kelas ini hanya aku yang tahu masalah besar yang menimpa keluarga Lisa,sejak pagi itu dia mengabarkannya padaku.Ternyata ibu Lisa yang memberitahu semuanya pada Lisa ,sebelum dia berangkat sekolah.Karena Lisa iseng bertanya mengapa ayahnya belum juga pulang.Dan ternyata juga ayahnya meninggalkan rumah sejak malam itu,dan belum kembali hingga sekarang.
"Sahabat yang baik adalah sahabat yang senantiasa memberi semangat,ketika sahabatnya tertimpa masalah,entah itu besar ataupun kecil",Nasihat ibu selalu kuingat,setelah aku menceritakan masalah Lisa pada ibuku,yang setahuku juga kenal dekat dengan Bu Herman.Semenjak hari itu,aku selalu mendukung,menyemangati,dan menghibur Lisa,karena aku tahu,aku dan Lisa akan mengikuti seleksi.
Setelah beberapa minggu Lisa murung,dan aku terus menyemangatinya,satu minggu sebelum seleksi,dia telah kembali menjadi Lisa yang dulu,Lisa yang ceria.Dan bagiku,Lisa adalah gadis brilian dari gunung.
***
(Chapter 3) Menanti Kabar Mentari
~Jumpa Sesal~
“Der...Dar...Dor...!!!”,nyala kembang api jumbo memang selalu memekakkan telinga,lebih-lebih saat malam tahun baru seperti malam ini.Aku duduk di beranda rumah,memandang bintang-bintang yang terlihat seperti semburan kaca yang menebar di lantai,menebar begitu saja dimana-mana,berkelap-kelip sungguh Allah Maha Kuasa.Aku hanya merenung,dan sesekali menyeruput teh hangat yang baru saja dibuatkan ibu.merenung dengan keadaan orang-orang di sekitarku,atau bahkan juga diriku sendiri.
Di penghujung akhir tahun seperti ini,coba buka saja facebook,instagram,twitter,line,dan kembaran-kembarannya.Karena disana akan dijumpai berbagai harapan,harapan yang benar-benar harapan,atau juga harapan yang hanya berupa omong kosong,dan niatan kosong,yang diniati hanya supaya terlihat tak ketinggalan jaman,kekininan,atau sekedar mencari perhatian.Ada yang memakai bahasa inggris,supaya terlihat keren dan gaul,padahal tak ada yang tahu,jika seumpama saja,ada salah satu yang menggunakan jasa translate dari internet.(Aku tersenyum,dan kembali menyeruput teh yang telah menjadi dingin, seperti udara malam ini).Ada juga yang memakai bahasa Indonesia,namun pada umumnya,yang satu ini postingannya panjang kali lebar,mereka menulis apa saja yang lewat di benak mereka.Lucunya lagi,jika ada beberapa orang,tapi biasanya kebanyakan adalah para remaja perempuan,mereka posting foto selfie,dan captionnya berupa sederetan harapan di tahun baru.Tak ada yang berani komentar jika foto selfienya sama sekali tidak relevan dengan keterangan ,atau biasa disebut caption.Itulah suasana dunia maya,yang akhir-akhir ini memang selalu sibuk,begitupun orang-orang di sekitarku atau bahkan aku sendiri,sepertinya menjadikan dunia maya sebagai tempat segala kegiatan,seolah-olah dunia nyata saja.
"Azza,masuklah! ini sudah larut malam",suara ayah dari dalam mengagetkanku.
Ini memang kebiasaanku sehari-hari, suka tempat yang sepi,damai,dan tenang.Walaupun ini adalah malam tahun baru yang mayoritas orang-orang ber ramai-ramai pergi kesana sini ,di acara ini itu.Begitu pula orang tuaku,mereka kurang suka ikut-ikutan untuk hal yang tidak penting semacam itu(menurutku).Pernah memang,kami pergi ke alun-alun kota di malam tahun baru,tapi hanya sekali,keika aku masih berusia 5 tahun.Suasana disana ramai,sesak,penuh orang dan barang-barang bawaan,seperti terompet,kembang api,balon,snack,dan lain sebagainya.Hingga pada akhirnya,gandengan ibuku terlepas begitu saja,karena ada bocah laki-laki menyerobot di tengah-tengah kami,hingga gandengan tanganku denagn ibu terlepas seketika,dan aku membaur bersama orang-orang yang asing menurutku.Syukurlah, ibu dengan cepat menemukanku.Semenjak itulah aku tak begitu suka dengan keramaian,kecuali jka untuk cara-acara yang begitu penting.
***
Mentari pagi 2016 menyapa lembut ,angin berdesir menyentuh rambutku,mekarnya bunga kamboja di halaman rumah menambah semngatku memulai kehidupan di awal tahun ini.Sekarang aku kelas 9 di Sekolah Menengah Pertama Bhakti Bangsa.Semua orang tahu,siapapun yang beraa di kelas akhir suatu sekolah,dilarang keras untuk lihai-lihai,karena sebentar lagi pasti akan diadakan sebuah ujian,ujian dimana seluruh siswa akhir sekolah Indonesia harus menghadapinya.Ya,itulah Ujian Nasional (UN).Tidak sedikit kalangan yang menentang diadakannya sistem Ujian Nasioanl ini,yang memiliki tujuan melnjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.Bagaimana jika pendidikan sebuah negara hanya mengutamakan nilai?angka?atau bagaimana jika salah seorang siswanya tidak jujur dalam mengerjakan?sehingga dia mendapat nilai bagus,dan bisa masuk di sekolah favorit,padahal sebut saja kemampuannya tidak memumpuni?Kasihan,bukan? "Aku harus belajar segiat mungkin,sebelum terlambat",bisikku pelan pada diriku sendiri.
Berangkat sekolah,les tambahan,tidur sebentar,belajar larut malam,itulah kebiasaan yang memang terpaksa tidak terpaksa kulakukan hanya untuk UN,hanya untuk mendapat nilai bagus,dan masuk ke SMA favorit di kotaku,jika semisalnya aku tidak diterima di SMA luar kota yang baru saja kuikuti seleksinya itu.
Suatu malam ketiga tanganku asik menulis rumus,mengerjakan soal matematika...
"Klung",nada pemberitahuan BBM ku berbunyi.Aku tahu,siapa kira-kira larut malam begini mengirim pesan padaku.Ya,dialah Bima,penyemangat terbesarku dalam belajar,dia bagaikan magnet bumi yang membuat buah mangga jatuh ke tanah,bagaikan nyala api yang menerobos kayu bakar,atau mungkin bagaikan air minum yang menyejukkan tenggorokan.Entah rasa aneh macam apa yang masuk ke dalam diriku setiap mengingatnya,saat ia terlihat serius mengerjakan tes tertulis waktu itu,saat dia nampak paling gagah ketika berkumpul dengan teman-temannya,dan saat ia selalu memberiku semangat.
Semenjak tes itu,aku dan Bima memang agak dekat,dekat dalam hal positif,seperti saling memberi semangat,sharing ilmu pengetahuan, dan terkadang saling melucu,walaupun kami bukan satu sekolah.Hingga pada suatu saat,semua peserta didik di kotaku tahun yang 2015 pernah menjuarai lomba dimana diadakan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten mendapat panggilan untuk menerima penghargaan.
"Azza,Vina! Sekarang juga kalian akan bapak ajak ke pendopo kabupaten,karena pernah menjuarai lomba lukis dan catur",jelas Pak Zaen setelah beberapa waktu tadi memanggilku,dan Vina,adik kelasku,yang kini kelas 8.Pak Zaen menitipkan 3 lembar data nama para siswa yang akan datang pada acara ini juga.Kubaca satu per satu,dan YAP! di lembar paling akhir,baris pertama,kulihat,kubaca,dan kuteliti.Benar,memang itu namanya,"Bima Irham",ucapku lirih tanpa ekspresi setitik pun.
Jantungku serasa berhenti detakannya
Keringat dingin satu per satu berjatuhan
dan Tubuhku gemetar, ketika aku melihatnya berjalan,di depan mataku.Aku telah sampai beberapa menit lalu,dan berjalan menuju pendopo,yang terletak sekitar 100 M dari tempat parkir.Di tempat parkir itu,Pak Zaen memarkir mobil sedan hitamnya.Kuperlambat jalanku,agar tak beriringan dengannya.Tempurung lututku seperti menghilang begitu saja ditelan rasa nervous tingkat atas.
"Hai,Azza?",seseorang menyapaku dari belakang.
"Halo,Evi! Apakabar?Wah kita bisa ketemu ya,aku tidak menyangka ,hehehe",celetukku seadanya untuk menutupi perasaan amburadul ku ini,perasaan cinta monyet (mungkin).Evi adalah sahabat kecilku,kami sering bermain bersama,menikmati air laut juga ombak yang menari-nari,merasakan angin pedesaan dimana belum banyak terkontaminasi dengan CO,dan mencari capung di pelataran rumahnya.Komunikasi antara kami mulai terputus ketika dia pindah ke kecamatan lain,di kota ini.
"Kabar baik,Azza. Alhamdulillah,aku juga tak menyangka kita bisa bertemu. Eh By the way kamu ingin melanjutkan ke SMA atau SMK mana?",Evi menggandengku,kami jalan beriringan,dan vina berjalan mengikuti kami.
"Hmmm... aku akan lihat kondisi setelah UN,bagaimana nilaiku nanti,kau pasti tahu maksudku kan?haha",Aku tertawa dengan pandangan lurus ke depan,Evi hanya tersenyum kemudian mengangguk.
Aku sengaja tidak memberitahukan kepada teman-teman di luar sekolahku, jika aku mengikuti seleksi beasiswa di sebuah SMA luar kota,karena dengan begitu aku merasa tenang,aku tak tahu mengapa.Rupanya Bima sudah duduk di kursi yang sudah tersedia.Degup jantungku semakin tak terkendali.Beberapa detik setelah pertemuanku dengan sahabat kecilku itu,aku telah duduk,disamping Vina,di baris kursi agak belakang.Lalu,tanpa kusadari Bima berada di kursi deret belakangku.Satu yang kuyakin,aku melihatnya,saat dia tak melihatku,dan dia melihatku,saat aku melihat yang lain,atau tak melihatnya.
Vina yang sedari tadi berada di sampingku,sepertinya mampu membaca kegelisahan yang kurasa,"Ada apa ,Mbak?"."Eh ti..tidak ada apa- apa,Vin",aku tersenyum malu,dan kami kembali mengikuti acara,hingga selesai,dan pulang.
"Azza,aku duluan ya",teriak Evi yang sudah jauh berjalan di depanku."Iya,Vi. Sampai jumpa",timpalku dengan teriakan pula,Evi tersenyum sembari melambaikan tangan.
Hari itu adalah hari yang membahagiakan sekaligus menyebalkan.Bahagia karena bisa bertemu orang yang kukagumi,dan sebal karena kami tak saling menyapa,sama sekali.
***
Kututup buku matematikaku,kumatikakn lampu belajarku,setelah beberapa menit lalu aku mengirim pesan padanya,sedikit dan singkat.Jarum jam menunjukkan pukul sebelas malam,aku pun menguap beberapa kali.Tak lama kemudian,tubuhku telah ambruk begitu saja di atas kasur bersprei pink kesukaanku.Namun,mata ini tak mampu terpejam,walau kantuk tak tertahankan lagi.
aku melamun...
Bima yang kuketahui,adalah siswa pandai di Sekolah Menengah Favorit kota ini.Diam-diam,sejak melihatnya ketika tes itu,aku mengaguminya,namun sekedar mengagumi,tak lebih.Padahal di awal mulanya aku tak suka dia,karena kuanggap sebagai ikon adanya kecurangan di balik seleksi itu,(Aku beristighfar).
"You can if you think you can",satu kutipan andalanku yang tak kuketahui siapa pencetusnya.Jika mengagumi seseorang,aku harus membuatnya kagum padaku juga,walaupun sedikit kemungkinan,tapi kutipan itu terasa beterbangan dalam otak dan hatiku,bagai daun kering yang terkena terpaan angin di musim gugur."Bagaimanapun ,aku harus bisa menyamainya,lebih-lebih di atasnya",khayalku dalam hati,aku tersenyum semangat.
Mata ini tertutup,"Semoga esok matahari menyambutku riang untuk memulai hari,serta angin yang berdesir halus merasuk ke relung hati,dan kicauan burung menyemangatiku",kalimat indah antah berantah yang tak kuketahui darimana asalnya itu,asik berkelebatan di gendang telinga ini,bagai penyair hidupku.
***
(Chapter 4) Menanti Kabar Mentari
~Bahagiamu Juga Bahagiaku,Kawan!~
Pagi ini, 2 bulan setelah malam itu...
Seseorang menatapku aneh,seolah ingin mengatakan sesuatu.Gadis itu tetap nampak cantik,meski matanya sembab,karena terlalu sering menangis.
"Tadi ketika kau belum datang, aku dapat kabar",awal mula dia menunduk sedih, lalu mengangkat kepala perlahan, dan terlihat senyum manis mengembang di wajahnya.
"Kabar apa,Lisa? Apakah ayahmu kembali?",kulihat dia yang berseri-seri,sejak dari tadi kami duduk berdua di bangku kelas membaca buku pelajaran.
"Ah! janganlah kau bicarakan soal itu. Tahukan kau ,Azza? aku diterima di SMA luar kota itu,tapi anehnya mengapa hanya aku?",raut wajahnya berubah murung,lalu dilanjutkannya "Kau tak apa,kan?",kedua tangannya memegang erat lenganku.
Aku tak berkutik,berkali-kali aku mengalami kejadian mengagetkan seperti ini.Yang kudapati hanyalah tusukan-tusukan setajam silet menancap di hati."Oh... syukurlah,selamat,semoga sukses",aku berusaha menjernihkan pikiran.Dan tak memperlihatkan segudang kekecewaanku.
"Kau benar tak apa?",Lisa mengulang perntanyaan untuk memastikan kondisiku.
"Lisa,percayalah,ini sudah bagian dari rencana-Nya.Aku yakin ada hikmah dibalik ini.
"Baiklah",Lisa menepuk pundakku,dan berjalan menuju bangkunya.Meninggalkan orang berperasaan campur aduk.
Disamping rasa kecewaku yang hanya karena tak lolos seleksi,kusadari,ini tak sebanding dengan perasaan berat yang menimpa Lisa beberapa waktu lalu.Semenjak kepergian sang ayah yang entah kemana,keadaan ekonomi keluarganya menurun drastis,sedrastis air hujan yang menimbulkan banjir bandang.Belum lagi jika ia mendengar fitnah-fitnah senonoh para tetangga,bahkan saudaranya sendiri,aku tak mampu lagi menggambarkan perasaannya."Buktikan pada dunia,kau pasti bisa mengangkat nama keluargamu kembali,Lisa!",aku berkata dalam hati setelah cukup lama memandangi Lisa dan senyumnya yang terus mengembang .
***
"Ibu,Azza berangkat,Assalamualaikum",aku berlari mengambil sepeda onthel seperti orang di kejar singa.Kerudungku belum sepenuhnya tertata rapi,sepatu belum kubersihkan,begitupun dengan sepeda bermerk Phoenix Star ini."Waalaikumsalam,hati-hati,Nduk!",terdengar suara ibu dari dalam rumah yang semakin lama semakin lenyap,karena aku pun sudah di depan gerbang setelah dari garasi tadi.Kukayuh pedal sekuat tenaga,mungkin jika orang melihatku,aku akan nampak seperti anak ayam yang kehilangan induknya,atau singa kelaparan.Nafasku tersengal sengal sesudah seperempat jam mengayuh sepeda pagi ini.Aku berlari menuju kelas,untung saja bel masuk belum berbunyi,dan sepertinya 10 menit lagi,hatiku tenang,seperti tersiram air dingin dari pegunungan.Aku memasuki kelas yang terasa bagaikan pasar desa,ramai,ribut,penuh canda tawa,ocehan,dan sesekali beberapa teman yang mondar mandir kurang kerjaan.Kulihat lisa manggut-manggut ,tersenyum,dan terus mengucap terimakasih di tengah kerumunan teman-teman.
"Wah! Kudengar kau lolos ya,Lis?",Rio salut
"Aduh! Selamat Lisa,sukses selalu",Nina menepuk pundak Lisa,dan teman-teman di sekitar nya mengamini.
"Ciee,yang diterima,jangan lupa nanti bagi-bagi pengalaman ya!"Celetuk Deni yang tengah serius menikmati jajanan kantin,walaupun belum jam istirahat.Itulah kebiasaan anak tergendut di kelasku.
"Subhanallah,kau memang temanku yang paling hebat lisa",kali ini teman sebangkuku,Fiola menjabat tangan Lisa,dengan mata yang berbinar-binar.
"Bla...Bla...Bla...",semua bergembira,termasuk juga aku,walau sebenarnya terbesit secuil rasa sedih.
Tatapanku kosong.
Sepertinya baru sedetik yang lalu pagiku berantakan,sekarang semua terpampang di depan mata,terdengar jelas di telinga,dan tertancap tegas di hati.Aku bagaikan sampah,aku terbuang sia-sia,tak ada gunanya lagi.Aku merasa begitu bodoh,lemah,dan seketika aku kehilangan rasa percaya diriku yang kubangun selama ini,dan yang selalu diajarkan oleh kedua orang tuaku.
"Hei! Kamu ngapain berdiri disini? Masih membawa tas,lagi",suara Dina,teman sebangku Lisa mengagetkanku.
"Iya ,ayo!",balasku singkat.
"Ada yang berbeda denganmu,Za. Apa kau merasa kecewa dan iri dengan Lisa?",Dina mulai menebak-nebak isi pikiran dan hatiku.
"Eh apa-apaan kamu ini?! Justru aku senang,sehingga Bu Herman akan sedikit terringankan dengan diterimanya Lisa,Din",Aku memasang wajah meyakinkan,dan seperti terbakar api semangat.
Dina hanya manggut-manggut dan mengacungkan dua jempol padaku,lalu ikut masuk di kerumunan.Begitupun denganku,agar tak terkesan iri,aku melakukan seperti apa yang mereka lakukan.Tak butuh waktu lama,kabar gembira itu sampai ke telinga seluruh warga sekolah,bahkan beberapa warga luar sekolah.
Tiba-tiba ingatanku melayang pada seseorang yang baru-baru ini menghidupkan api semangat belajar dalam diriku.Diterimakah dia?
Siang membakar keramaian jalan,debu kotor beterbangan dimana-mana,cahaya panas matahari menerpa setiap sudut rumah,sesekali angin segar menampar halus wajahku,jilbab putih ini berkelebat sekenanya.Jika tadi pagi aku seperti singa kelaparan,sekarang aku lebih nampak seperti unta tak bertulang,lemas,lemah gemulai.Mengayuh pedal pelan,hingga sampai di sebuah tempat kecil,penuh komputer dan perangkatnya.Aku membuka website sebuah sekolah,mencari beberapa data,dan kini semua sudah pasti,tak ada nama Bima di dalam deretan data nama siswa yang diterima.
"Ini nasib awalku,dan dia,nasib kedua tentu akan datang. Kuharap akan ada seberkas cahaya yang menerangi jalan kita",Kuberikan beberapa lembar uang pada seorang pria pemilik warnet ini ,dan melangkah keluar mengharap titik terang nasib.
***
(Chapter 5) Menanti Kabar Mentari
~Jaket Merah~
Rintik hujan perlahan mengenai tubuhku , terasa bagai tembakan peluru tak berkekuatan, awan hitam pekat bak bagai kopi kental yang tak habis diminum, angin kencang sore ini terasa seperti udara lemari es,rumput-rumput tenang berselimut air,batuan di sepanjang jalan meringkuk kedinginan,sama sepertiku.Tubuh ini menggigil,tangan kananku memegang payung biru tua,berusaha melawan arus angin.Rumahku masih jauh,jika jalan kaki seperti ini.Lalu lintas sepi,kurasa orang-orang lebih memilih tidur,atau sekadar minum teh hangat di rumah bersama keluarga,tidak sepertiku ini,yang baru pulang dari sekolah,setelah berlama-lama disana hanya untuk mengakses Wi-Fi.Hujan semakin deras,rumahku sudah samar-samar nampak dari tikungan jalan,aku belok kiri.Rumah perpaduan Jawa dan Bali itu,selalu menenangkan hati.Di sekelilingnya ada banyak jenis bunga,seperti kamboja,iris,melati air,dan yang belum kuketahui namanya.Pohon Mangga besar di tengah pelataran luasnya nampak tertunduk sendu dari kejauhan bersama langit kelam.
Ujian Nasional telah usai satu bulan lalu. Setelahnya,aku bebas tertawa lepas,berlari-larian dengan seribu khayal juga doa kemana pun kaki ini melangkah,karena pengumuman hasil ujian pun tinggal menghitung hari.Sebagian besar anak kelas 9 jadi lebih sering datang di sekolah,walaupun tidak ada kewajiban masuk, mereka memanfaatkan akses internet,sebelum meninggalkan sekolah ini.Terkesan seperti burung-burung yang lepas dari sarangnya,menjemput sejuta kebebasan,dan keceriaan.
Aku duduk di beranda rumah,melepas sepatu ku yang terbasahi air hujan,lalu meletakkannya di pinggir pondasi,setidaknya tak akan terkena tamparan air hujan yang semakin menjadi saja.Hal-hal yang saat ini melintas di kepalaku yaitu aku akan mandi air hangat,makan,ashar,dan kemudian tidur.
***
Badanku tak enak,setelah 3 hari demam,karena berani menantang hujan sore itu.Dan saat ini,tinggal menghitung menit, hal mendebarkan itu akan sampai di telingaku,dan seluruh siswa kelas 9.Di aula ini,ada yang menunduk sambil komat-kamit membaca doa apa saja,ada pula yang mondar mandir sampai kebelet,katanya.Wajahku tak setegang mereka.Padahal ,di relung hati terdalam ini,kurasakan sesak ,sesak karena penuh gendang,jedor,bahkan bass betot."Jujur saja,aku lebih tegang dari kalian",batinku sembari mengetukkan gigi.
"Selamat ya",suaranya terdengar halus,tak asing lagi,itu suara ibu.Dia memelukku spontan,dan mengajak segera pulang.
"Bagaimana hasilnya ,Bu?",aku bertanya tak sabaran,dan sejurus kemudian ibu menyerahkan map yang berisi nilai Ujian Nasional.Aku sebenarnya senang,tapi aneh,tak sepenuhnya aku merasa puas.Targetku setidaknya 38, namun ini hanya 35,8. "Sudah,diterima saja,Nduk",ibu serasa mampu membaca isi hatiku."Iya,alhamulillah ,Bu",aku memasukkan nilai ke dalam map cokelat tadi.
Besok lusa pendaftaran seluruh SMA di kotaku akan dibuka,aku telah mempersiapkan berkas pendaftaran jauh-jauh hari.Optimis meraung-raung di pikiranku,karena aku akan kembali menggunakan piagam yang kupunya,piagam lomba melukis.
***
15 menit setelah aku jenuh menunggu,akhirnya Pak Tukang yang biasa bekerja di rumahku itu membunyikan klakson sepeda motornya,pertanda menyuruhku segera naik,dan aku mengangguk lega.Helm telah kukenakan,map pendaftaran yang sedari tadi kubekap,telah aman di dalam tas,dan lelaki pendek,dengan kulit cokelat sawo,dan gigi nya yang sedikit maju ini mulai melaju bersamaku,dan motornya."Saya doakan semoga diterima ,Mbak",tanpa basa-basi Pak Tukang mulai bicara,dan merapikan jaket cokelatnya,setelah tadi hanya menggunakan isyarat-isyarat umum.Aku mengamini.
Kaki ini tengah berjalan di pelataran SMA impianku sedari dulu.Puluhan siswa berbaju OSIS SMP,para orang tua yang sibuk menunggui anak-anaknya,dan guru-guru yang tak kalah sibuk meneliti berkas pendaftaran.Itulah pemandangan yang kusaksiskan sekarang ini.Aku sendirian,menuju lobi pendaftaran,dan mengurus semua,hingga selesai,dan aku keluar."Aku tak melihatnya","Mengapa dia tak datang?","Aku menunggunya,aku pikir dia akan bersekolah disini","Dimanakah dia?",hatiku bergejolak menyemburkan kalimat-kalimat sekenanya.Aku pulang,bersama lelaki tadi lagi.
Sekitar 15 km menaklukkan jalan raya pantura ini,Pak Tukang memintaku turun,kami tengah berada di depan sebuah toko kayu.Aku duduk di bangku depan toko,dan mengambil ponselku untuk mengecek peringkat pendaftaran.
Aku terhentak,tak menyangka.
Ku amati baik-baik,penuh teliti,berkali-kali.Memang benar! namaku "Azza Nuraini Fitria" berada di urutan nomor 10.
"Zzzap!",hatiku kembali terhentak,belum ada satu detik setelah membaca pengumuman itu,aku melihat dia.
Di seberang jalan,di sebuah studio foto,begitu dekat,di depan mata.Aku terpaku,tak bergerak,yang kumampu adalah menelan ludah,dan mengetukkan gigi.Dia bersama seorang wanita muda serta anak perempuan kecil seumuran dengan adikku, yang kini akan menginjak kelas 2 SD.Aku berniat menyapa,tapi ku urungkan itu,karena tak mungkin seorang gadis berteriak-teriak di pinggir jalan raya yang sibuk ini,hanya untuk menyapa seseorang,lebih-lebih adalah seorang lelaki.Firasatku mengatakan,jika saat ini Bima juga tengah mengetahuiku,jika dilihat secara bersamaan,siapapun akan melihat seorang gadis di depan toko kayu,dan anak lelaki seusianya di seberang jalan di sebuah studio foto,keduanya nampak kikuk.
Aku mulai mengenakan helm yang tadi kulepas ketika di seberang sana,Bima yang saat itu berjaket merah, juga sedang memasukkan helm hitam ke kepalanya."Mengapa harus bersamaan?Tidak! ini hal biasa,hanya kebetulan belaka",aku tertawa dalam hati dan kemudian pulang,bersama lelaki berjaket cokelat,bukan yang berjaket merah,karena Bima, si jaket merah telah hilang di kejauhan,tertelan jarak.
***
(Chapter 6) Menanti Kabar Mentari
~Puisiku,Puisimu,Puisi Kita~
"Kau suka puisi?",Tanyanya.
"Suka"
"Bisakah kau membuat puisi?"
"Hatiku sering bergejolak,jadi kurasa bisa"
"Katakan sesuatu padaku!",perintahnya.
"Berhenti sejenak,berkata dalam sepi"
Dia membalas, "Berhening dalam kegelapan,mengharap kecerahan masa depan,bersama Tuhan"
"Dan terus berkata,jangan henti",aku menimpali
"Tanpa jeda dalam keheningan"
"Walau dalam sepi,semua terasa indah"
"Karena hidup bukan keresahan,tapi kebahagiaan dalam naunganNya"
"Karena hidup juga butuh sebuah waktu,untuk melihat betapa bahagianya kita,merasakan nikmat dariNya"
"Waktu untuk sendiri,merenung atas waktu yang berlalu,merasakan atas kuasaNya"
"Lalu sedikit demi sedikit,berubah dan terus berubah"
"Keharusan yang menjadi kewajiban,dalam kesirnaan laksana siang,terus menembus gelapnya malam"
"lalu tetap hening"
"dalam detak yang terasa"
"Perlahan masuk di hati"
"Tanpa kata tanpa keributan"
"Disitulah kenikmatan paling sederhana"
"Sesederhana lantunan langgam jawa"
"Namun terasa mewah"
"Bersaing dalam arena kesenian"
"Juga perbedaan"
"Sudah!",Dia mengakhiri,dan senyumnya terkembang.
***
Kepalaku pusing.Mencoba berdiri,namun tak kuat sedikitpun,mataku basah,lantai pun basah.Tampaknya aku baru saja menangis.Layar laptop tua di sampingku terlihat hitam,"Ah! aku lupa mematikannya",kutepuk jidat ku ,dan rasanya semakin pusing.Puisi itu hanya mimpi.Lalu,aku teringat akan puisi yang pernah diciptakan olehnya,orang yang kukagumi.
"Sunguh gila!aku terlalu berharap,dia membuat puisi untukku,karena memang itu adalah hobinya!",aku berkata pelan seolah menceramahi diriku.
***
Teringat satu hal, sebelum kelopak mataku tertelungkup...
"Masih ada banyak kesempatan,kau tahu?Ada sebuah SMA yang menawarkan beasiswa selain SMA luar kota yang kemarin lho",Dina yang memang periang, mengucapkan itu padaku dengan sejuta harapan dan doa.Terlihat dari mata nya yang bening,sebening air hujan yang langsung turun ke tanah.Tanpa tersentuh genting rumah,pepohonan,atau kabel sepanjang jalan.
Perkataan Dina yang waktu itu kuabaikan sekarang terngiang-ngiang di kepala."Apakah Bima mengambil beasiswa itu?","Sepertinya iya". Kunyalakan laptop yang biasa menemani hariku selama 6 tahun terakhir.Jariku berlarian di atas keyboard.Menelusuri website sekolah yang diberitahukan Dina beberapa hari lalu dimana tak menanggapinya.Di dalamnya tertera link daftar nama peserta didik lolos seleksi.Aku memindai satu persatu nama yang tertulis disitu.Inilah nasib kedua kita,setelah sama-sama gagal di percobaan pertama beberapa bulan lalu,aku di tempat impianku,dan kau di tempat impianmu.
Berjuta hentakan memang merasuki hidupku,hingga selalu dibuat kaget.Di urutan tengah-tengah,terpampang jelas nama Bima Irham.Dia lolos,dan diterima.selang beberapa menit, aku tertidur ,di lantai.Berkelana dalam puisi mimpi,hingga mata ini membuka.
***
(Chapter 7 ,Ending ) Menanti Kabar Mentari
~Menanti Kabar Mentari~
"BRAKKKKKK! PYAAAAR! ",semua terlambat.Aku tersungkur tak berdaya setelah terpelanting jauh.Tangan dan kakiku berlumuran cairan merah kental,kaca bus berserakan dimana-mana.Tak lama kemudian, mobil polisi datang satu per satu menuju tempat kejadian.Samar-samar ,lantunan panggilan shalat merasuk di telingaku yang berdarah.Semakin lama,suara adzan terdengar semakin jelas.
Aku terbangun,"Hanya mimpi",gumamku pelan.Jarum jam menunjukkan pukul 6 petang,aku mengambil wudhu,dan shalat.
Malam ini langit pekat,bintang bulan bersembunyi di balik awan,kutatap tajam awan yang menggantung di langit malam ini.Aku rindu bulan,bintang,lebih-lebih matahari,yang menyapa tiap esokku.
Di dalam mimpi,sebelum kejadian yang tak pernah kualami itu terjadi...
"Aku pergi,jangan rindukan aku! Maaf",ucapnya datar sembari melangkahkan kaki menjauhiku.Dan sekitar 5 menit,tubuh tegap bak model itu lenyap di keramaian terminal.
Bibirku terkunci,tak sempat membalas ucapannya,sepatah kata pun.Pernahkah kau merasa lututmu tiba-tiba saja menghilang?atau berdiri tanpa tulang dan rangka?sepertinya itu yang kini kurasakan.Dia pergi,dengan meninggalkan sepenggal kalimat menyakitkan,melebihi penyakit-penyakit ganas yang eksistensinya semakin membuncak.
Aku pun pergi.Air mata jatuh ke lipatan rok panjang hasil jahitan ibuku lebaran tahun lalu.Aku bosan,bukan bosan karenanya,tapi aku bosan untk menangis. Begitu mudahnya air mata ini keluar.
Baiklah! aku tak akan rindu,walau rindu,tak akan ingat,walau bayangmu melekat erat di pikiranku,tak akan mendoakanmu,walau mendoakanmu di setiap sujud ku.Semua akan kulakukan dalam diam,hingga kau sadar,sadar untuk tersenyum,sedikitpun tak apa,senyum ikhlas (semoga) hanya untukku.
Sendal jepit di kedua kakiku terus menapaki kerasnya jalan.Hingga lihat sebuah bus melaju kencang di lawan arah.Aku tetap menatapnya,menatap bus yang hampir sepuluh kali membunyikan klaksonnya padaku,pertanda menyuruhku menepi, "BRAKKKKKK! PYAAAAR! ",semua terlambat,aku tersungkur tak berdaya setelah terpelanting jauh.Tangan dan kakiku berlumuran cairan merah kental.Kaca bus berserakan dimana-mana,lalu tak lama kemudian mobil polisi datang satu per satu menuju tempat kejadian.
***
Detik,menit,jam,hari,bulan,semua berlalu .Menari-nari di atas takdir waktu.Sekolah baru tempatku belajar,menenangkan hati.Setenang air rawa,entah ada apa di dalamnya.Gemuruh petir hampir terdengar setiap hari, di akhir tahun ini.
Mengingat Lisa,kuharap dia selalu tersenyum melalui hari-hari sulitnya.Harapannya untuk membuktikan kepada seluruh jagad raya,bahwa dia tak seperti yang ada di benak mereka,semoga segera terwujud.
Mengingat Bima,Tak ada kabar mengenai dirinya yang kini jauh.Jauh yang sebenarnya dekat,namun memang jauh.Bagai si lingkaran kuning penyebar kehangatan cahaya,yang hanya sesekali merebak dedaunan basah."Dengarlah! kunanti kabarmu",Teriak jurang dari dasar hati.
Karena dia,mentari hidupku.
____End____

"Aku menulis cerita pendek ini karena aku merasa hatiku hidup,pada saat itu.Menunggu mentari selalu,untuk menghidupkan hatiku,sekarang dan selamanya"

 Asanf

 

Post a Comment

Popular posts from this blog

Cerpen : Hujan Bulan Juni

Toponimi: Asal-Usul Kabupaten Rembang